Drone Murahan Ditembak Rudal Patriot Seharga Rp45 Miliar

Kamis, 16 Maret 2017 | Kamera
Drone Murahan Ditembak Rudal Patriot Seharga Rp45 Miliar - Pesawat nirawak atau drone amatir sekarang semakin ternama dan banyak dipakai di jurusan sebaliknya popularitasnya semula membawa dampak negatif, sebab drone quadcopter - yg di bekali empat baling-baling - sering menabrak privasi dan keamanan di alat utama seperti bandara.

Beberapa negara di jurusan termasuk Jepang, Inggris, dan Belanda sudah berinovasi untuk membuat senjata untuk melumpuhkan drone amatir seperti ini. Jenisnya beragam ada yang memanfaatkan meriam laser, jala raksasa, dan makin burung elang yang dilatih khusus.

Tetapi baru-baru ini terungkap bahwa sebuah negara sekutu Amerika Serikat rela memanfaatkan peluru kendali Patriot guna meneruskan suatu drone quadcopter biasa.

Fakta ini tersibak bermula perkataan Jenderal David G Perkins, komandan satuan penataran dan doktrin Angkatan bumi Amerika Serikat. Perkins, dekat suatu video di YouTube pekan ini, mengatakan bahwa drone yg ditembak menggunakan rudal Patriot itu harganya lebih kurang 200 dollar AS atau lebih kurang Rp2,6 juta.

Baca masih : daftar bayaran drone syma terbaru

"Di Amazon.com, drone itu harganya hanya kurang lebih 200 dolar dan beliau hancur dihantam satu buah rudal Patriot," kata Perkins seperti dilansir BBC.

Menurut Perkins drone itu diduga milik seteru dan ditembak oleh suatu negara sekutu AS. dirinya tidak menjelaskan negeri mana yang menembakan rudal Patriot itu.

Tetapi Perkins memaparkan bahwa memanfaatkan satu buah rudal Patriot cuma guna menggempur satu buah drone murahan merupakan tenggang yang berlebihan dan tak ekonomis.

Betapa tak sebuah rudal Patriot harganya sangat mahal, kurang lebih 3,4 juta dollar kalau dikonversi ke rp harga rudal itu mampu meraih Rp45 miliar per unit.

Rudal Patriot tunggal merupakan peluru kendali yg didesain juga sebagai bagian awal system pertahanan antimisil. dia lazim diperlukan guna membedil rudal lain yang ditembak oleh musuh.

Patriot sempat difungsikan AS pada Perang Teluk pertama untuk 1990an kepada menolak serangan rudal Scud Irak yg mengarahkan Arab Saudi dan Israel.

Rudal Patriot kreasi produsen senjata Raytheon bermula AS ini diketahui dipunyai oleh beberapa negeri seperti Jerman, Arab Saudi, Israel, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Belanda, Korea Selatan, dan Taiwan.